Senin, 26 November 2018

Karakteristik Pembelajaran TK dan SD









BAB I
1.A      LATAR BELAKANG
Kita semua menyadari bahwa ada satu hal di dunia ini yang tidak pernah berubaah yaitu perubahan itu sendiri. Perubahan-perubahan yang berlangsung begitu cepat menuntut kita untuk dapat mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan itu. Oleh karena itu, jika kita tidak ingin ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain maka pendidikan mutlak kita butuhkan untuk mengembangkan potensi anak di dalam negeri yang berperan sebagai aset negara yakni melalui proses pembelajaran.   Sesuai dengan Undang-Undang Dasar pasal 31 ayat 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Tujuan di atas dapat dicapai salah satunya dengan mengembangkan dan meningkatkan mutu serta daya saing dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran bagi guru-guru di sekolah yang di lakukan harus selalu mengacu pada tujuan undang-undang dengan memperhatikan karakteristik siswa sebagai penerus bangsa.   Sunarto (1994:1) menyatakan bahwa:   Manusia adalah makhluk yang dapat di pandang dari berbagai sudut pandang. Sebagai mana di kenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapien, makhluk yang berbuat atau homofaber dan mahkluk yang dapat dididik atau homo educandum, merupakan pandangan-pandangan tentang manusia yang dapat di gunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan terhadap manusia tersebut.    “setiap individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan dan karakteristik yang di dapat dari pengaruh lingkungan” (Sunarto, 1994:4). Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa-siswa yang ada didalam kelas, tidak seorangpun yang sama. Mungkin dua orang kelihatannya hampr sama, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati keduanya tentu terdapat perbedaan.  Untuk itu di perlukan guru-guru yang berkualitas, yang menguasai pendekatan, strategi, model dan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat mengelola kegiatan pembelajaran dua macam kelas yang optimal pada berbagai situasi siswa 
dan materi pembelajaran. Namun karena berbagai sebab, kenyataan di lapangan sering tidak sesuai  dengan harapan para guru di sekolah-sekolah yang menerapkan metode pembagian dua kelas   Sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran tertentu. Hal ini mungkin di sebabkan oleh pendekatan, strategi, model, atau metode yang diterapkan oleh guru kurang sesuai, juga kemampuan guru serta sarana pembelajaran yang meliputi media, alat peraga dan buku pegangan siswa yang terbatas atau sebab lain yang tidak diketahui.    Keadaan ini mendorong peneliti untuk melaksanakan penelitian tentang pembelajaran di sekolah, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya peningkatan prestasi belajar siswa dan peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran.
1.B TUJUAN
Tujuan umum penelitian tentang pembelajaran di sekolah ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dan peningkatan kinerja guru dalam  pembelajaran di TK dan SD Master Depok  melalui penerapan  layanan konseling terhadap siswa  individu:
1. Meningkatkan motifasi  serta semangat dalam belajar pada anak SD Master
2. Meningkatkan hasil belajar Anak TK dalam melatih kecerdasan kogitif,psikomotorik dan Afektif.






BAB ll
PEMBAHASAN

II.A Kajian Teori
           ll.A.1  Teori TK
 Berdasarkan teori Piaget, anak akan melalui beberapa periode perkembangan berpikir, diantara periode itu adalah periode berpikir praoperasional dan periode intuitif. Anak yang berumur 3-5 tahun, menurut teori Piaget ini, memiliki kemampuan berpikir konseptual. Dimana, ini dapat ditandai oleh kemampuan berpikir dengan mempergunakan konsep-konsep yang sederhana.  Anak disibukkan dengan penggunaan simbol-simbol dalam menyatakan apa yang dipikirkan atau dipahaminya. Anak sibuk mempergunakan bahasa untuk menolongnya mengembangkan berbagai konsep.   Selain itu, pada periode intuitifnya, anak mampu mengambil kesimpulan sendiri yang dasarnya tidak jelas dan pertimbangan pikiran yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Namun, tidak menutup kemungkinan anak pada periode ini akan bersifat egosentris. Dimana, anak akan lebih kuat aku-nya sebab ia di kuasai oleh ego-nya yang tinggi. Dalam masa perkembangannya ini, anak diberikan kesempatan untuk bermain dengan teman sebaya, agar hubungan sosialnya meluas dan ia dapat melalui periode perkembangannya dengan terarah. Sebab, pada masa ini anak memiliki kepribadian yang cenderung mempercayai dirinya sendiri, memiliki sifat aku yang yang kuat, dan kepribadian yang ingin mengekplorasikan diri dan lingkungannya.  Oleh karena itu, pelayanan pada anak yang usianya masih pada perkembangan usia dini , haruslah tepat, agar keyakinan dasar anak itu dapat terbentuk dengan baik.





II .A2  Teori SD
1.Pengertian anak kesulitan belajar
Kesulitan belajar adalah suatu kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan. Kondisi yang demikian umumnya disebabkan oleh faktor biologis atau fisiologis, terutama berkenaan dengan kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan dalam belajar spesifik, serta faktor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar.  Berbagai masalah anak kesulitan belajar secara umum menyangkut kemampuan akademik dasar seperti calistung (membaca,menulis, dan berhitung). Hal ini menyebabkan anak kesulitan belajar sulit untuk diidentifikasi hingga mereka masuk sekolah dan mengalami masalah prestasi akademis. Tanda anak yang mengidap kesulitan belajar antara lain:
a. Perkembangan terlambat Secara performance anak yang jauh tertinggal dengan teman seusianya menjadi indikator adanya kelainan perkembangan pada anak berkesulitan belajar. Perkembangan ini menyangkut keterlambatan berbahasa, misal: sulit mengerti kata -kata, sulit berbicara sesuai dengan anak sebayanya. Keterlambatan ini juga bisa dilihat dari proses pertumbuhanya, seperti terlambat berjalan atau terlambat berdiri. Hal lain, ketertinggalan dalam memahami arah,mengenal bentuk huruf, pelafalan kata atau hitungan. Hasil studi menunjukan anak yang terlambat perkembangannya juga mengalami keterlambatan di sekolah.
b. Penampilan tak konsisten.Anak kesulitan belajar mampu melakukan soal matematika dari guru hari ini, tapi jika mendapat soal itu pada hari-hari berikutnya ia tak mampu untuk menyelesaikannya. Kesulitan ini diprediksi karena kemampuan mengingatnya yang kurang.
c.  Kehilangan minat belajar. Sebenarnya anak kesulitan belajar suka belajar, namun antusiasmenya kian berkurang begitu masuk sekolah karena mengalami gangguan pemrosesan informasi yang butuh daya ingat dan pengorganisasian informasi dalam jumlah besar. Ciri-ciri yang mudah dilihat dengan jelas: suka menunda-nunda pekerjaan, seperti mengerjakan tugas belum selesai dan mengatakan akan mengerjakannya di sekolah. 
d. Tak mencapai prestasi seperti yang diharapkan. Adanya kesenjangan antara potensi dan prestasi yang ditunjukan anak dapat menjadi ciri utama bagi yang mengalami kesulitan belajar. Misalnya, anak 8 tahun kelas tiga SD, dengan IQ 139 dengan kemampuanya bisa menguasai materi kelas 4 bahkan kelas 5 hambatan ini disebabkan ketidakmampuan belajar mandiri.
e.  Masalah tingkah laku yang menetap. Anak kesulitan belajar umumnya mempunyai masalah perilaku. Masalah perilaku ini, seperti cepat mengambek dan marah. Anak yang mengalami kesulitan persepsi visual dan bahasa akan sulit memahami dan mengingat informasi, sehingga sering terkesan sulit diatur dan kasar. Tingkah laku ini tentunya tidak disadari oleh anak. Kesulitan muncul saat anak masuk sekolah, karena sekolah secara intens menuntutnya berperilaku baik. Di sekolah mungkin ia berhasil mengendalikan diri, namun di rumah ada perubahan perilaku yang mencolok. Hal ini yang menyebabkan anak dianggap keras kepala, malas, tak peka, tak bertanggung jawab dan tak mau bekerja sama.
Karakteristik kesulitan belajar yang ditemukan pada murid kecenderungan menunjukkan kesulitan dalam hal-hal berikut :
a)      Aspek Kognitif
Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan dalam masalah-masalah khusus, seperti : kemampuan membaca, menulis mendengarkan, berpikir dan matematis.
       b) Aspek Bahasa
Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan dalam mengekspresikan diri, baik secara lisan (verbal) maupun tertulis. Dengan kata lain murid yang mengalami tuna cakap belajar dalam aspek bahasa, cenderung mengalami kesulitan dalam menerima dan memahami bahasa (bahasa reseptif ) serta dalam mengekpresikan diri secara verbal (bahasa ekspresif).
       C) Aspek motorik
Masalah motorik murupakan salah satu masalah yang dikaitkan dengan murid tuna cakap belajar yang behubungan dengan keulitan dalam keterampilan motorik-perseptual (perceptual-motorproblem)

yang deperlukan untuk mengembangkan keterampilan meniru rancangan atau pola, kemampuan ini diperlukan untuk menggambar, menulis menggunakan gunting, serta sangat
diperlukan koordinasi yang baik antara tangan dan mata, yang dalam banyak hal koordinasi tersebut kurang dimanfaatkan murid yang mengalami tuna cakap belajar.
             d) Aspek Sosial dan Emosi
Dua karakteristik yang sering diangkat sebagai karakteistik social-emosional murid tuna cakap belajar ialah kelabilan emosional dan keimpulsifan. Kelebihan emosional ditunjukkan sering berubahnya suasana hati dan temperamen yang menyebabkan lemahnya pengendalian terhadap dorongan-dorongan.
2. Faktor-Faktor Yang Menimbulkan Kesulitan Belajar
            Kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya prestasi belajarnya. Namun kesulitan belajar dapat dibuktikan. Dengan munculnya penyimpangan perilaku siswa seperti kesukaan berteriak-teriak didalam kelas, mengusik teman, sering tidak hadir dan sebagainya.
            Secara garis besar faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam :
1.      Faktor Internal Siswa
2.      Faktor Eksternal Siswa

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Anak Secara Internal
a.        Gangguan Secara Fisik
Seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh serta penyakit menahun

b.      Kelemahan Mental
Baik itu kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman.
c.       Kelemahan Emosional
Seperti rasa tidak aman atau kurang bisa menyesuaikan diri di lingkungan nya.
d.      Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap yang salah
Kebiasaan yang salah yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi karakter si anak dan agak susah untuk merobahnya.

II .A3  Teori Layanan Yang Diberikan TK dan SD
Teori yang diberikan di TK:
Layanan Konseling Individual.


Teori yang diberikan di SD:
Layanan Konseling Individual


II. B Karakteristik (Klien)
Gambaran Tentang Anak  :
1)   Penampilan Fisik
Sesuai dengan hasil pengamatan terhadap anak, cara berbicara dengan guru cukup sopan namun terkadang dalam berbicara pada temannya terdengar lebih nyaring, perkembangan kesehatannya baik.



2)   Penampilan Pribadinya
Dilihat dari kesehariannya, anak duduk dan berteman dengan temannya yang bernama abil yang sering mengganggu teman disebelahnya dan terkadang tidak mau mengikuti perintah gurunya untuk tertib mengikuti pelajaran, Kemudian farsha pun mengikuti apa yang dilakukan temannya. Sering berpindah-pindah tempat, jika sudah selesai mengerjakan salah satu perintah guru ia sering mengganggu temannya yang belum selesai seperti mengambil pensil. Namun, jika ia duduk di samping gurunya ia akan jadi anak yang baik dan penurut. Dilihat dari lingkungannya, ayahnya sangat sibuk bekerja dikantor sedangkan ibunya yang membuka usaha dirumah pun jarang berkomunikasi dengan anaknya.



Karakteristik (Klien) SD
Dari observasi yang saya lakukan pada siswa I yang bernama Anwar diatas yang terlahir dalam keluarganya sebagai anak kedua dari tiga bersaudara memiliki masalah ditingkah laku dan belajarnya. Tetapi yang lebih dominan, dia memiliki masalah dalam belajarnya. Dalam menjawab pertanyaan dari saya, dia tidak terlalu terbuka dan bersikap malu, apa lagi saat teman- teman nya mendekati kami saat wawancara. Dia mengatakan yang tidak sebenarnya jika temannya mendekat. Pada saat kami berdua saja, saya menanyakan kenapa dia berbohong pada saat di depan temannya. Dia mengatakan bahwa dia malu. Dalam menjawab pertanyaan saya dia agak tertutup dan pemalu. Saya menanyakan kepada guru bagaimana sebenarnya sikap Anwar dalam belajar dan perilaku nya disekolah. Gurunya mengatakan bahwa Anwar sebenarnya anak yang baik. Pada saat gurunya menerangkan pelajaran, dia memperhatikan gurunya. Tetapi dia tidak fokus. Dan dia tidak bisa mengerti pelajaran dengan  cepat. Selalu terlambat dari teman- temannya. Bahkan setiap tugas yang diberikan gurunya tidak pernah selesai saat itu juga. Disaat saya mengobservasi siswa ini,saya melihat bahwa perhatiannya mudah teralihkan. Dimana pada saat guru nya menerangkan juga memberikan tugas, semua teman-teman nya bekerja, dia malah memperhatikan gurunya yang berbicara dengan guru lain. Jadi siswa ini termasuk siswa yang harus fokus dalam melakukan suatu pekerjaan tidak ada gangguan lain. Karena pada saat dia berada dirumah, sudah terbiasa dengan suasana yang nyaman dan tenang.   




BAB III
PENUTUP


III. Kritik
Seorang anak yang dianggap nakal merupakan anak yang tidak mau menuruti perintah orang tua dan berlaku diluar kewajaran dalam konteks negatif.Sejatinya, kita tidak diperkenankan menyebut seorang anak sebagai anak nakal dan menganggapnya sebagai salah satu keburukan di dalam masyarakat.   Dalammengatasi kenakalan anakyang paling dominan mengendalikan adalah dari keluarga, karena merupakan lingkungan yang paling pertama ditemui seorang anak.Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap bicara yaituSikap/cara yang bersifat preventif dan sikap/cara yang bersifat represif.
Langkah awal yang dapat kita lakukan jika anak hanya berbuat tidak baik disekolah yaitu menjauhkan anak dari penyebab ia berperilau buruk dan mendampingi anak dalam mengatasi masalahnya.

III.  B  SARAN
Semoga dalam pel;ayanan yang diberikaan saya dapat bermanfaat untuk  siswa, dan untuk Guru pemnbing-bing siswa untuk lebih memperhatikan keadaan siswa lagi agar keevektifitasan dalam belajar semakin bermanfaat terutama untuk kedepannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RAGAM TES PSIKOLOGI DALAM BIDANG PENDIDIKAN (LANJUTAN ) › Tes EPPS adalah tes kepribadian yang terdiri atas pilihan-pil...