BAB
I
1.A LATAR BELAKANG
Kita semua menyadari bahwa ada
satu hal di dunia ini yang tidak pernah berubaah yaitu perubahan itu sendiri.
Perubahan-perubahan yang berlangsung begitu cepat menuntut kita untuk dapat
mengikuti dan menyesuaikan dengan perubahan itu. Oleh karena itu, jika kita
tidak ingin ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain maka pendidikan mutlak kita
butuhkan untuk mengembangkan potensi anak di dalam negeri yang berperan sebagai
aset negara yakni melalui proses pembelajaran.
Sesuai dengan Undang-Undang Dasar pasal 31 ayat 3 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Tujuan
di atas dapat dicapai salah satunya dengan mengembangkan dan meningkatkan mutu
serta daya saing dalam pembelajaran di sekolah-sekolah. Oleh karena itu
kegiatan pembelajaran bagi guru-guru di sekolah yang di lakukan harus selalu
mengacu pada tujuan undang-undang dengan memperhatikan karakteristik siswa
sebagai penerus bangsa. Sunarto
(1994:1) menyatakan bahwa: Manusia
adalah makhluk yang dapat di pandang dari berbagai sudut pandang. Sebagai mana
di kenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapien,
makhluk yang berbuat atau homofaber dan mahkluk yang dapat dididik
atau homo educandum, merupakan pandangan-pandangan tentang manusia
yang dapat di gunakan untuk menetapkan cara pendekatan yang akan dilakukan
terhadap manusia tersebut. “setiap
individu memiliki ciri dan sifat atau karakteristik bawaan dan karakteristik
yang di dapat dari pengaruh lingkungan” (Sunarto, 1994:4). Seorang guru setiap
tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa-siswa yang berbeda satu sama lain.
Siswa-siswa yang ada didalam kelas, tidak seorangpun yang sama. Mungkin dua
orang kelihatannya hampr sama, akan tetapi pada kenyataannya jika diamati
keduanya tentu terdapat perbedaan. Untuk
itu di perlukan guru-guru yang berkualitas, yang menguasai pendekatan, strategi,
model dan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat mengelola kegiatan
pembelajaran dua macam kelas yang optimal pada berbagai situasi siswa
dan materi pembelajaran. Namun
karena berbagai sebab, kenyataan di lapangan sering tidak sesuai dengan harapan para guru di sekolah-sekolah
yang menerapkan metode pembagian dua kelas
Sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran
tertentu. Hal ini mungkin di sebabkan oleh pendekatan, strategi, model, atau
metode yang diterapkan oleh guru kurang sesuai, juga kemampuan guru serta
sarana pembelajaran yang meliputi media, alat peraga dan buku pegangan siswa
yang terbatas atau sebab lain yang tidak diketahui. Keadaan ini mendorong peneliti untuk
melaksanakan penelitian tentang pembelajaran di sekolah, dengan harapan dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya peningkatan prestasi belajar siswa
dan peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran.
1.B TUJUAN
Tujuan
umum penelitian tentang pembelajaran di sekolah ini adalah untuk meningkatkan
prestasi belajar siswa dan peningkatan kinerja guru dalam pembelajaran di TK dan SD Master Depok melalui penerapan layanan konseling terhadap siswa individu:
1.
Meningkatkan motifasi serta semangat
dalam belajar pada anak SD Master
2.
Meningkatkan hasil belajar Anak TK dalam melatih kecerdasan
kogitif,psikomotorik dan Afektif.
BAB ll
PEMBAHASAN
II.A
Kajian Teori
ll.A.1 Teori TK
Berdasarkan teori Piaget, anak akan
melalui beberapa periode perkembangan berpikir, diantara periode itu adalah
periode berpikir praoperasional dan periode intuitif. Anak yang berumur 3-5
tahun, menurut teori Piaget ini, memiliki kemampuan berpikir konseptual.
Dimana, ini dapat ditandai oleh kemampuan berpikir dengan mempergunakan
konsep-konsep yang sederhana. Anak
disibukkan dengan penggunaan simbol-simbol dalam menyatakan apa yang dipikirkan
atau dipahaminya. Anak sibuk mempergunakan bahasa untuk menolongnya
mengembangkan berbagai konsep. Selain
itu, pada periode intuitifnya, anak mampu mengambil kesimpulan sendiri yang
dasarnya tidak jelas dan pertimbangan pikiran yang tidak dapat dijelaskan
dengan kata-kata. Namun, tidak menutup kemungkinan anak pada periode ini akan
bersifat egosentris. Dimana, anak akan lebih kuat aku-nya sebab ia di kuasai
oleh ego-nya yang tinggi. Dalam masa perkembangannya ini, anak diberikan
kesempatan untuk bermain dengan teman sebaya, agar hubungan sosialnya meluas
dan ia dapat melalui periode perkembangannya dengan terarah. Sebab, pada masa
ini anak memiliki kepribadian yang cenderung mempercayai dirinya sendiri,
memiliki sifat aku yang yang kuat, dan kepribadian yang ingin mengekplorasikan
diri dan lingkungannya. Oleh karena itu,
pelayanan pada anak yang usianya masih pada perkembangan usia dini , haruslah
tepat, agar keyakinan dasar anak itu dapat terbentuk dengan baik.
II .A2 Teori SD
1.Pengertian anak kesulitan belajar
Kesulitan
belajar adalah suatu
kondisi dimana kompetensi atau prestasi yang dicapai tidak sesuai dengan
kriteria standar yang telah ditetapkan. Kondisi yang demikian umumnya
disebabkan oleh faktor biologis atau fisiologis, terutama berkenaan dengan
kelainan fungsi otak yang lazim disebut sebagai kesulitan dalam belajar
spesifik, serta faktor psikologis yaitu kesulitan belajar yang berkenaan dengan rendahnya motivasi dan minat belajar. Berbagai
masalah anak kesulitan belajar secara umum menyangkut kemampuan akademik dasar
seperti calistung (membaca,menulis, dan berhitung). Hal ini menyebabkan anak
kesulitan belajar sulit untuk diidentifikasi hingga mereka masuk sekolah dan
mengalami masalah prestasi akademis. Tanda anak yang mengidap kesulitan belajar
antara lain:
a. Perkembangan terlambat Secara performance anak yang
jauh tertinggal dengan teman seusianya menjadi indikator adanya kelainan
perkembangan pada anak berkesulitan belajar. Perkembangan ini menyangkut
keterlambatan berbahasa, misal: sulit mengerti kata -kata, sulit berbicara
sesuai dengan anak sebayanya. Keterlambatan ini juga bisa dilihat dari proses
pertumbuhanya, seperti terlambat berjalan atau terlambat berdiri. Hal lain,
ketertinggalan dalam memahami arah,mengenal bentuk huruf, pelafalan kata atau
hitungan. Hasil studi menunjukan anak yang terlambat perkembangannya juga
mengalami keterlambatan di sekolah.
b. Penampilan tak konsisten.Anak kesulitan belajar
mampu melakukan soal matematika dari guru hari ini, tapi jika mendapat soal itu pada hari-hari
berikutnya ia tak mampu untuk menyelesaikannya. Kesulitan ini diprediksi karena
kemampuan mengingatnya yang kurang.
c. Kehilangan minat belajar.
Sebenarnya anak kesulitan belajar suka belajar, namun
antusiasmenya kian berkurang begitu masuk sekolah karena mengalami gangguan
pemrosesan informasi yang butuh daya ingat dan pengorganisasian informasi dalam
jumlah besar. Ciri-ciri yang mudah dilihat dengan jelas: suka menunda-nunda
pekerjaan, seperti mengerjakan tugas belum selesai dan mengatakan akan
mengerjakannya di sekolah.
d. Tak mencapai prestasi seperti yang diharapkan. Adanya
kesenjangan antara potensi dan prestasi yang ditunjukan anak dapat menjadi ciri
utama bagi yang mengalami kesulitan belajar. Misalnya, anak 8 tahun kelas tiga SD, dengan IQ 139 dengan
kemampuanya bisa menguasai materi kelas 4 bahkan kelas 5 hambatan ini
disebabkan ketidakmampuan belajar mandiri.
e. Masalah tingkah laku yang menetap. Anak
kesulitan belajar umumnya mempunyai masalah perilaku. Masalah perilaku ini,
seperti cepat mengambek dan marah. Anak yang mengalami kesulitan persepsi
visual dan bahasa akan sulit memahami dan mengingat informasi, sehingga sering
terkesan sulit diatur dan kasar. Tingkah laku ini tentunya tidak disadari oleh
anak. Kesulitan muncul saat anak masuk sekolah, karena sekolah secara intens menuntutnya berperilaku baik. Di sekolah mungkin ia
berhasil mengendalikan diri, namun di rumah ada perubahan perilaku yang
mencolok. Hal ini yang menyebabkan anak dianggap keras kepala, malas, tak peka,
tak bertanggung jawab dan tak mau bekerja sama.
Karakteristik kesulitan belajar yang ditemukan pada murid kecenderungan menunjukkan kesulitan dalam hal-hal berikut :
a)
Aspek
Kognitif
Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan
dalam masalah-masalah khusus, seperti : kemampuan membaca, menulis mendengarkan,
berpikir dan matematis.
b) Aspek
Bahasa
Yaitu murid yang menunjukkan karakteristik kesulitan
dalam mengekspresikan diri, baik secara lisan (verbal) maupun tertulis. Dengan
kata lain murid yang mengalami tuna cakap belajar dalam aspek bahasa, cenderung
mengalami kesulitan dalam menerima dan memahami bahasa (bahasa reseptif ) serta dalam mengekpresikan diri
secara verbal (bahasa ekspresif).
C) Aspek
motorik
Masalah motorik murupakan salah satu masalah yang
dikaitkan dengan murid tuna cakap belajar yang behubungan dengan keulitan dalam
keterampilan motorik-perseptual (perceptual-motorproblem)
yang deperlukan untuk mengembangkan keterampilan meniru
rancangan atau pola, kemampuan ini diperlukan untuk menggambar, menulis
menggunakan gunting, serta sangat
diperlukan koordinasi yang baik antara tangan dan mata,
yang dalam banyak hal koordinasi tersebut kurang dimanfaatkan murid yang
mengalami tuna cakap belajar.
d) Aspek
Sosial dan Emosi
Dua karakteristik yang sering diangkat sebagai
karakteistik social-emosional murid tuna cakap belajar ialah kelabilan
emosional dan keimpulsifan. Kelebihan emosional ditunjukkan sering berubahnya
suasana hati dan temperamen yang menyebabkan lemahnya pengendalian terhadap
dorongan-dorongan.
2. Faktor-Faktor Yang Menimbulkan Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya prestasi
belajarnya. Namun kesulitan belajar dapat dibuktikan. Dengan munculnya
penyimpangan perilaku
siswa seperti kesukaan berteriak-teriak didalam kelas, mengusik teman, sering
tidak hadir dan sebagainya.
Secara garis besar faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri
atas dua macam :
1. Faktor Internal Siswa
2. Faktor Eksternal Siswa
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Anak
Secara Internal
a.
Gangguan Secara Fisik
Seperti
kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera,
cacat tubuh serta penyakit menahun
b. Kelemahan Mental
Baik
itu kelemahan yang dibawa sejak lahir maupun karena pengalaman.
c.
Kelemahan Emosional
Seperti
rasa tidak aman atau kurang bisa menyesuaikan diri di lingkungan nya.
d. Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan
sikap yang salah
Kebiasaan
yang salah yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi karakter si anak dan
agak susah untuk merobahnya.
II
.A3 Teori Layanan Yang Diberikan TK dan
SD
Teori
yang diberikan di TK:
Layanan Konseling Individual.
Teori
yang diberikan di SD:
Layanan Konseling Individual
II.
B Karakteristik (Klien)
Gambaran
Tentang Anak :
1) Penampilan Fisik
Sesuai
dengan hasil pengamatan terhadap anak, cara berbicara dengan guru cukup sopan
namun terkadang dalam berbicara pada temannya terdengar lebih nyaring,
perkembangan kesehatannya baik.
2) Penampilan Pribadinya
Dilihat
dari kesehariannya, anak duduk dan berteman dengan temannya yang bernama abil
yang sering mengganggu teman disebelahnya dan terkadang tidak mau mengikuti
perintah gurunya untuk tertib mengikuti pelajaran, Kemudian farsha pun
mengikuti apa yang dilakukan temannya. Sering berpindah-pindah tempat, jika
sudah selesai mengerjakan salah satu perintah guru ia sering mengganggu
temannya yang belum selesai seperti mengambil pensil. Namun, jika ia duduk di
samping gurunya ia akan jadi anak yang baik dan penurut. Dilihat dari
lingkungannya, ayahnya sangat sibuk bekerja dikantor sedangkan ibunya yang
membuka usaha dirumah pun jarang berkomunikasi dengan anaknya.
Karakteristik
(Klien) SD
Dari observasi yang saya lakukan pada siswa I yang
bernama Anwar diatas yang terlahir dalam keluarganya sebagai anak kedua dari
tiga bersaudara memiliki masalah ditingkah laku dan belajarnya. Tetapi yang
lebih dominan, dia memiliki masalah dalam belajarnya. Dalam menjawab pertanyaan
dari saya, dia tidak terlalu terbuka dan bersikap malu, apa lagi saat teman-
teman nya mendekati kami saat wawancara. Dia mengatakan yang tidak sebenarnya
jika temannya mendekat. Pada saat kami berdua saja, saya menanyakan kenapa dia
berbohong pada saat di depan temannya. Dia mengatakan bahwa dia malu. Dalam
menjawab pertanyaan saya dia agak tertutup dan pemalu. Saya menanyakan kepada
guru bagaimana sebenarnya sikap Anwar dalam belajar dan perilaku nya disekolah.
Gurunya mengatakan bahwa Anwar sebenarnya anak yang baik. Pada saat gurunya
menerangkan pelajaran, dia memperhatikan gurunya. Tetapi dia tidak fokus. Dan
dia tidak bisa mengerti pelajaran dengan
cepat. Selalu terlambat dari teman- temannya. Bahkan setiap tugas yang
diberikan gurunya tidak pernah selesai saat itu juga. Disaat saya mengobservasi
siswa ini,saya melihat bahwa perhatiannya mudah teralihkan. Dimana pada saat guru
nya menerangkan juga memberikan tugas, semua teman-teman nya bekerja, dia malah
memperhatikan gurunya yang berbicara dengan guru lain. Jadi siswa ini termasuk
siswa yang harus fokus dalam melakukan suatu pekerjaan tidak ada gangguan lain.
Karena pada saat dia berada dirumah, sudah terbiasa dengan suasana yang nyaman
dan tenang.
BAB III
PENUTUP
III. Kritik
Seorang
anak yang dianggap nakal merupakan anak yang tidak mau menuruti perintah orang
tua dan berlaku diluar kewajaran dalam konteks negatif.Sejatinya, kita tidak
diperkenankan menyebut seorang anak sebagai anak nakal dan menganggapnya
sebagai salah satu keburukan di dalam masyarakat. Dalammengatasi kenakalan anakyang paling
dominan mengendalikan adalah dari keluarga, karena merupakan lingkungan yang
paling pertama ditemui seorang anak.Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak
orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap bicara yaituSikap/cara yang
bersifat preventif dan sikap/cara yang bersifat represif.
Langkah
awal yang dapat kita lakukan jika anak hanya berbuat tidak baik disekolah yaitu
menjauhkan anak dari penyebab ia berperilau buruk dan mendampingi anak dalam
mengatasi masalahnya.
III. B
SARAN
Semoga
dalam pel;ayanan yang diberikaan saya dapat bermanfaat untuk siswa, dan untuk Guru pemnbing-bing siswa
untuk lebih memperhatikan keadaan siswa lagi agar keevektifitasan dalam belajar
semakin bermanfaat terutama untuk kedepannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar